Menjadi dokter adalah sebuah cita-cita bagi banyak orang. Menjadi
dokter juga adalah sebuah impian, harapan bagi berbagai idealisme. Baik
idealisme menolong orang lain, memenuhi harapan keluarga, hingga
mengangkat harkat martabat keluarga. Apapun itu dasarnya, tidak bisa
dielakkan, tidak bisa diubah, dan itulah keunikan setiap individu yang
ingin menjadi dokter.
Namun kehidupan dokter tidaklah seindah yang dibayangkan banyak
orang. Di dalamnya terdapat banyak sekali tantangan yang mungkin bagi
orang awam tidak masuk akal. Dokter juga seringkali menerima pandangan
miring dari masyarakat. Pandangan bahwa dokter merupakan salah satu
profesi yang banyak mengeruk keuntungan dari jasanya. Terkadang bahkan
masyarakat beranggapan bahwa menjadi dokter itu enak, hanya periksa
sebentar uang langsung di tangan. Benarkah begitu mudahnya kehidupan
dokter? Tidak pernahkah Anda mendengar banyaknya dokter yang dituntut
oleh pasien karena malpraktik ataupun pelayanan yang tidak memuaskan?
Tidak pernahkah pula Anda mencoba mencari tahu bagaimana kehidupan
sehari-hari seorang dokter yang seringkali harus berhadapan dengan
pasien-pasien yang terlalu banyak tuntutan?
Saya kutip pernyataan
seorang teman saya yang kuliah di salah satu Fakultas Kedokteran,
“Pasien Sembuh, Puji Tuhan, Pasien ga Sembuh? MALPRAKTEK”
Pernahkah anda tau bahwa bagaimana kerasnya dan sulitnya pendidikan
di Fakultas Kedokteran? Tanpa mengurangi rasa hormat, di jurusan-jurusan
lain mendapat nilai “A” itu mungkin gampang, dan rata-rata IPK waktu
lulusnya juga tinggi-tinggi, tak jarang yang mendapat IPK lebih dari
3.25. Fakultas Kedokteran?? Jangankan nilai “A” lulus aja udah
alhamdulillah. Dapat nilai “A” itu anugrah yang tak ternilai yang Allah
berikan kepada kita.
Profesi dokter adalah profesi yang tidak henti-hentinya disorot.
Hampir setiap hari dapat kita baca berita mengenai profesi yang satu
ini, sayangnya sebagian besar yang ditampilkan adalah berita-berita
mengenai ketidakbecusan dokter dalam menangani pasien, pasien yang
melapor karena menjadi korban “malpraktik”, rumah sakit yang dikatakan
menolak pasien, dan pada akhirnya akan ditarik kesimpulan ORANG MISKIN
TIDAK BOLEH SAKIT. Meskipun dikatakan betapa sulitnya menjadi dokter,
setiap tahunnya beribu-ribu orang berebut masuk ke fakultas kedokteran
dengan biaya yang fantastis. Jadi bagaimanakah sebenarnya perjalanan
seseorang dokter hingga dapat menjadi penyembuh yang tidak boleh salah
ini?
Menjadi mahasiswa fakultas kedokteran adalah suatu kebanggaan,
apalagi fakultas kedokteran adalah memang fakultas yang paling
terpandang, dan orang yang masuk di fakultas kedokteran adalah
orang-orang yang kemampuan tinggi atau cerdas baik secara intelektual,
psikologis, kesehatan, maupun akademik. Maskuk kedokteranpun lebih susah
dibanding jurusan lain walaupun diperguruan tinggi terbonafid di negeri
ini. Menjadi dokter pula bukan berarti tanpa biaya. Namun juga bukan
berarti biayanya murah. Memang sebuah fakta, bahwa menjadi dokter, di
Indonesia, adalah barang yang mahal. Kocek memang harus diraba lebih
dalam. Hal ini membuat asumsi masyarakat bahwa FK (Fakultas Kedokteran)
adalah Fakultas Kaya. Saya kira suatu hal yang masuk akal saja bahwa
orang yang mampu secara ekonomi dapat masuk FK, toh dia mampu-mampu
saja. Dan tentu saja dibalik itu orang yang tidak mampu, tidak boleh
tidak dapat masuk FK karena terdapat banyak jalur pembiayaan pendidikan
termasuk beasiswa. Apakah benar masuk fakultas kedokteran selalu mahal
sehingga ditebus dengan menarik biaya tinggi setelah lulus? Hal itu
tidak sepenuhnya benar. Mahasiswa kedokteran di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga angkatan 2010 yang lulus lewat jalur SNMPTN cukup
membayar uang masuk Rp 1.032.500 dan SPP Rp 1.250.000 setiap
semesternya.
Swastapun, ga mesti semuanyal mahal sampai ratusan juta.
Contohnya kampus saya Unissula. Angkatnku misalnya, uang masuk untuk
jalur PMDK 80 Juta rupiah dan jalur tes memang ini agak sedikit mahal
135 juta rupiah, dengan biaya per semester rata-rata 8,6 juta rupiah.
Kenapa saya katakan Unissula tidak terlalu mahal? Untuk ukuran FK Swasta
yang mendapatkan akreditasi “A” biaya segitu wajar. Walaupun perlu
diakui juga, biaya remidi FK Unissula sangat mahal diluar kewajaran dan
paling mahal di Indonesia. Beberapa perguruan tinggi yang FKnya
akreditasinya dibawah A uang masuk diatas 200 juta dan biaya per
semester diatas 15 juta rupiah. Hanya 4 FK swasta yang terakreditasi A
di Indonesia ini. Yang jelas kedua-duanya, baik yang kaya atau tidak
mampu, memiliki satu kesamaan yang tidak dimiliki orang lain, yaitu kemampuan akademik yang sangat tinggi untuk menjadi dokter. Bukan
sembarang orang, di mana untuk masuk harus menyisihkan ribuan
pendaftar. Itu saja. Maka saya kira masalah pundi-pundi bukan alasan
untuk masuk FK. Hanya di kedokteranlah jurusan dengan pesaing terbanyak
meskipun kedokteran dengan status “terdengar” mungkin dibanding jurusan
lain yang hanya menyisihkan saingan yang tidak terlalu banyak. Ada
beberapa hal yang menjadi pembeda antara mahasiswa FK dengan mahasiswa
jurusan lain. Jangan heran ya kalau kami gak nyambung diajak ngomong
mengenai perkuliahan, begitupun sebalinya. karena sistem kami aja udah
beda. Hal yang paling mendaar dari perbedaan tersebut adalah dimana FK
menggunakan sistem modul atau blok, bukan SKS. Meski masih ada beberapa
yang masih memakai sistem SKS. Mahasiswa di sistem blok ini mahasiswa
dituntut menjadi lebih mandiri, karena sistemnya menitik beratkan
mahasiswa untuk Self directed learing jika mahasiswa iingin mendapat ilmu yang berlebih. Bila
di fakultas lain ada yang namanya Ujian Open Book/take home, maka di FK
tidak ada, sekalipun ada ujian open book percuma saja, bukunya saja
tebal-tebal, mungkin buat bawa bukunya perlu nyewa truck mungkin
(lebay.com) Selain itu yang membedakan mahasiswa FK dengan Fakultas lain
adaah FK mewajibkan menggunakan kemeja, celana kain untuk cowok, dan
rok kain untuk cewek. Bahkan beberapa FK mewajibkan memasukan bajunya ke
dalam celana dan menggunakan ikat pinggang
Menjadi dokter harus melalui dua tahap pendidikan, yaitu praklinik
dan kepaniteraan klinik. Praklinik adalah menjalani kuliah-kuliah selama
minimal 4 tahun dan setelah menyelesaikannya akan diberi gelar S.Ked
(Sarjana Kedokteran).
Selepas euforia diterima di FK, mulailah seorang mahasiswa kedokteran
mempelajari ilmu-ilmu dasar sebagai landasan untuk kemudian mempelajari
penyakit dan cara-cara pengobatan. Begitu banyak yang harus dilalui
mulai dari menahan bau formalin saat praktikum anatomi dengan cadaver
(mayat) yang sudah dibedah, merelakan diri untuk saling berlatih
mengambil dan memeriksa DARAH, URIN, serta FESES secara bergantian, dan
kewajiban mengerti serta menghapalkan tumpukan buku kedokteran yang
tebalnya ribuan halaman. Tugas-tugasnyapun banyak, setiap akan tutorial
atau SGD, kami dituntut untuk belajar guna menyiapkan materi untuk
diskusi SGD, setiap menjelang praktikum di laboratorium, kami selalu
disuguhi tugas yang sangat-sangat banyak, dan berlembar-lembar yang
harus dikerjakan TULIS TANGAN. Belum revisinya. Setelah praktikum?
laporan praktikum dan ACCpun menanti, laporan praktikum juga ditulis
tangan rapi dan diselingi belajar guna menyiapkan untuk ACC atau
pengesahan. Karena setiap tidak bisa menjawab pertanyaan dari dosen atau
asisten saat ACC maka laporan tidak akan di tandatangan dan dicap.
Karena jika ada satu laporan yang tidak ter ACC, tidak diijinkan
mengikuti ujian praktikum atau identifikasi. Setiap akan praktikum atau
skill lab dimulai dilakukan pre test, beberapa perguruan tinggi
menerapkan jika tidak lulus pre test tidak boleh ikut praktikum. Dan
setelah praktikum selesai akan dilakukan post test. Jauh-jauh hari
sebelum praktikum dimulai lab mengadakan Responsi. Semuanya tidak lepas
dari pengorbanan para dosen, dokter, dan profesor yang rela meluangkan
waktu serta tenaga untuk mengajar mahasiswa mulai dari tingkat paling
bawah.
Beberapa gugur, ada pula teman saya yang keluar dan hilang, adapula
yang tidak kuat dan harus masuk Rumah Sakit Jiwa, dan yang lain
bertahan, singkat kata, empat tahun terlewati sudah, dan luluslah dari
program pendidikan pre klinik di Fakultas Kedokteran. Apakah sudah
selesai? Tidak, perjuangan justru baru dimulai, dengan gelar Sarjana
Kedokteran di tangan, para calon dokter mulai bertugas di rumah sakit
sebagai dokter muda atau lazim disebut co-ass. Seorang S.Ked belum dapat
menjadi dokter. Sama seperti Seorang SE (Sarjana Ekonomi) belum dapat
menjadi akuntan. Seorang SH (Sarjana Hukum) belum dapat menjadi advokat
atau notaris.
Menjadi dokter muda adalah suatu periode pendidikan dokter yang
ditekankan pada penerapan (aplikasi) teori-teori yang sebelumnya sudah
didapat dari periode preklinik. Menjadi dokter muda bukanlah menjadi
dokter yang mandiri. dokter muda memiliki hak dan kewajibannya sendiri
dan serupa-tak-sama dengan hak dan kewajiban dokter. Koas dan dokter
punya kewajiban untuk menghormati pasien, bersikap profesional sesuai
keilmuan, dan lainnya. Namun dokter muda tidak ada hak untuk berpraktik
mandiri. Semua apa yang dilakukan koas harus berada dibawah supervisi
dokter pembimbingnya. Namun dibalik itu mereka pun dituntut untuk
memiliki profesionalisme layaknya dokter mandiri. Jadi, saya kira ketika
masyarakat awam berhadapan dengan koas, maka sudah sesuai aturan yang
ada, bila mereka tidak dapat menegakkan diagnosis dan memberi terapi
secara mandiri di depan pasien tanpa dikonsultasikan dengan
pembimbingnya.
Seorang dokter muda bekerja magang di rumah sakit untuk menangani
pasien di bawah pengawasan dokter-dokter lain yang sudah senior,
sehingga tidak benar apabila dikatakan pasien menjadi kelinci percobaan.
Apabila melakukan kesalahan sedikit saja, dokter muda tidak luput dari
sanksi dan bentakan para dokter maupun residen yang mengevaluasi kita.
Bahkan pernah saya mendapat cerita ada yang sampai dilempar gunting mayo
sama dokter yang membimbing. Seorang dokter muda diwajibkan ada di
rumah sakit setiap harinya tidak peduli hari Minggu atau hari raya idul
fitri, juga menjalani jadwal jaga. Jaga di sini berarti tinggal di rumah
sakit dan membantu merawat pasien di bangsal semalaman suntuk,
seringkali tanpa tidur. Setelah itu masih dilanjutkan dengan mengikuti
laporan mengenai kondisi pasien pagi-pagi benar dan bertugas lagi sampai
sorenya, serta follow up keadaan pasien. sehingga boleh dikatakan hidup
seorang dokter muda adalah di rumah sakit dengan jam kerja yang
sangatlah panjang. Semua yang dokter muda itu dilakukan TANPA ADA
BAYARAN satu rupiahpun.
Menjadi dokter muda memang posisinya seperti serba tanggung. Mereka
menganamnesa pasien, memeriksa pasien, kemudian baru dilaporkan ke
pembimbing, dan diricek ulang pembimbing, baru dapat ditegakkan
diagnosis oleh pembimbing. Memang tampak ribet, dan tidak seperti ke
dokter biasa yang bisa dilewati proses oleh dokter muda langsung ke
dokter praktiknya. Hal ini tidak jarang memberi kesan bagi pasien,
apakah saya jadi bahan percobaan? Tentunya di sini perlu ada kesepahaman
antara dua pihak. dokter mudapun perlu bersikap profesional dan memberi
rasa nyaman sehingga pasien tidak dirugikan. Dan sebaliknya pasien
perlu paham bahwa dirinya bukanlah kelinci percobaan, tetapi dirinya
terlibat sebagai guru bagi dokter muda sehingga bisa mengembangkan
dirinya untuk menjadi dokter yang baik kelak. Apakah masyarakat mau
punya dokter yang selama hidupnya hanya melakukan tindakan dengan boneka
saja?
Apakah pasien harus takut bila diperiksa para dokter muda? Ini
kembali lagi kesepahaman. dokter muda harus bersikap profesional,
rasional, dan sesuai dengan janji hipokratiknya untuk “First do not harm —
Yang terutama, jangan mencelakakan orang”. Kemudian ia menerapkan apa
yang ia pelajari sesuai dengan standar ilmu yang ada. Di dalam proses
dunia fana ini, mungkin terjadi kesalahan. Misalnya dokter muda yang
menginfus pasien menyebabkan bengkak di tempat penusukan dan akhirnya
penusukan infus diberikan ke pembimbing. Ingat bahwa semata-mata, mereka
tidak ada niat mencelakakan pasien, ia berusaha yang terbaik bagi
pasien. Kesalahan yang ada bukan disengaja. Tindakan-tindakan ini
memerlukan pengalaman yang tak hanya sekali. Seperti anak yang belajar
berjalan, apakah ia dapat tanpa tejatuh atau tertatih dahulu? memang
harus diterapkan rasa profesionalisme layaknya dokter praktik. Harus
mampu menempatkan diri dan sikap yang sesuai. Jelas dokter muda tidak
boleh terlihat asyik bermain game di depan pasien. Dokter muda tidak
boleh diam saja ketika pasien memerlukan pertolongan. Dokter muda tidak
boleh terlihat cengengesan di depan pasien. Ya, ini layaknya seorang
dokter.
Fase sebagai dokter muda ini harus dijalani selama dua tahun dengan
tetap membayar uang kuliah, semuanya itu adalah bagian dari pendidikan
profesi yang harus dijalani sebelum layak menyandang gelar dokter “dr.”
Setelah selesai menjalani dokter muda, maka para dokter muda yang
sudah selesai menjalani tugasnya ini dihadapkan pada UKDI (Ujian
Kompetensi Dokter Indonesia) yang meliputi ujian tertulis (CBT) dan juga
praktik (OSCE UKDI). Apabila lulus, resmilah ia menjadi seorang dokter
dengan segala hak dan kewajiban yang melekat padanya. Lalu apakah
berhenti di situ saja? Ternyata belum, dan di sinilah keprihatinan itu
dimulai. Dokter ini harus menjalani internship atau program penempatan
ke rumah sakit tipe C dan puskesmas di kota-kota kecil selama setahun.
Bukan penempatannya yang menjadi masalah, namun selama menjalani
internship dokter ini tidak boleh dulu berpraktik sendiri, ia harus
mengabdi di rumah sakit di mana ia ditempatkan, dengan gaji yang dipukul
rata yaitu Rp 2.500.000 per bulan, jauh di bawah UMR buruh sekalipun.
Masih dengan jam kerja yang panjang dan tidak menentu ditambah tanggung
jawab kepada pasien, perlu diingat juga bahwa para dokter ini harus
menanggung biaya hidup di kota asing yang tentunya tidak sedikit.
Selepas internship, seorang dokter dianggap cukup mumpuni untuk
berpraktik sendiri, maka ada beberapa pilihan yang bisa diambil, salah
satunya adalah menjalani PTT di daerah-daerah terpencil atau menjalani
pendidikan dokter spesialis. Pilihan yang sulit, mengingat meskipun ada
begitu banyak daerah terpencil di seluruh Indonesia yang masih
kekurangan dokter, namun terpilih menjadi dokter PTT tidaklah mudah
dikarenakan terbatasnya kuota. Menjalani pendidikan spesialis juga bukan
tanpa konsekuensi. Pendidikan spesialis di Indonesia hampir seluruhnya
harus dijalani TANPA GAJI, dengan lama pendidikan bervariasi mulai tiga
sampai enam tahun. Tanggung jawab dan beban kerja seorang calon
spesialis juga jauh lebih berat lagi daripada seorang dokter muda atau
dokter internship. maka hargailah perjuangan para dokter yang rela
bertugas di daerah terpencil sampai tertular penyakit dan menjadi korban
konflik. Dengarkanlah suara para dokter di tengah gencarnya program
kesehatan pemerintah.
UNTUK MAHASISWA KEDOKTERAN INDONESIA, DIBAWAH INI SAYA PERSEMBAHKAN PESAN INI UNTUK TEMAN-TEMAN SEPERJUANGAN SAYA SEMUA,
Jika Anda ingin menjadi dokter untuk bisa kaya raya, maka segeralah kemasi barang-barang Anda.
Mungkin fakultas ekonomi lebih tepat untuk mendidik anda menjadi businessman bergelimang rupiah.
Daripada Anda harus mengorbankan pasien dan keluarga Anda sendiri demi mengejar kekayaan.
Jika Anda ingin menjadi dokter untuk mendapatkan kedudukan sosial
tinggi di masyarakat, dipuja dan didewakan, maka silahkan kembali ke
Mesir ribuan tahun yang lalu dan jadilah fir’aun di sana. Daripada Anda
di sini harus menjadi arogan dan merendahkan orang lain di sekitar Anda
hanya agar Anda terkesan paling berharga.
Jika Anda ingin menjadi dokter untuk memudahkan mencari jodoh atau
menarik perhatian calon mertua, mungkin lebih baik Anda mencari agency
selebritis yang akan mengorbitkan Anda sehingga menjadi artis pujaan
para wanita. Daripada Anda bersembunyi di balik topeng klimis dan jas
putih necis, sementara Anda alpa dari makna dokter yang sesungguhnya.
Dokter tidak diciptakan untuk itu, kawan.
Memilih menjadi dokter bukan sekadar agar bisa bergaya dengan BMW
keluaran terbaru, bukan sekadar bisa terihat tampan dengan jas putih
kebanggaan, bukan sekadar agar para tetangga terbungkuk-bungkuk hormat
melihat kita lewat.
Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengabdian.
Mengabdi pada masyarakat yang masih akrab dengan busung lapar dan gizi
buruk. Mengabdi pada masyarakat yang masih sering mengunjungi dukun
ketika anaknya demam tinggi.
Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan empati,
ketika dengan lembut kita merangkul dan menguatkan seorang bapak tua yang baru saja kehilangan anaknya karena malaria.
Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kemanusiaan,
ketika kita tergerak mengabdikan diri dalam tim medis penanggulangan bencana dengan bayaran cuma-cuma.
Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan kepedulian,
saat kita terpaku dalam sujud-sujud panjang, mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan pasien-pasien kita.
Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan berbagi,
ketika seorang tukang becak menangis di depan kita karena tidak punya
uang untuk membayar biaya rumah sakit anaknya yang terkena demam
berdarah. Lalu dengan senyum terindah yang pernah disaksikan dunia, kita
menepuk bahunya dan berkata, “jangan menangis lagi, pak, Insya Allah
saya bantu pembayarannya.”
Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan kasih sayang,
ketika dengan sepenuh cinta kita mengusap lembut rambut seorang anak
dengan leukemia dan berbisik lembut di telinganya,”dik, mau diceritain
dongeng nggak sama oom dokter?”
Memilih jalan menjadi dokter adalah memilih jalan ketegasan,
ketika sebuah perusahaan farmasi menjanjikan komisi besar untuk target
penjualan obat-obatnya, lalu dengan tetap tersenyum kita mantap berkata,
“maaf, saya tidak mungkin mengkhianati pasien dan hati nurani saya”
Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan pengorbanan,
saat tengah malam tetangga dari kampung sebelah dengan panik mengetuk
pintu rumah kita karena anaknya demam dan kejang-kejang. Lalu dengan
ikhlas kita beranjak meninggalkan hangatnya peraduan menembus pekat dan
dinginnya malam.
Memilih menjadi dokter adalah memilih jalan terjal lagi mendaki untuk meraih cita-cita kita.
Bukan, bukan kekayaan atau penghormatan manusia yang kita cari. Tapi ridha Allah lah yang senantiasa kita perjuangkan.
Yah,
memilih menjadi dokter adalah memilih jalan menuju surga, tempat di mana dokter sudah tidak lagi perlu ada…
NB :
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk mengeluhkan
sulitnya menjadi seorang dokter, atau betapa setelah perjuangan panjang
itu dokter harus disanjung dan dihormati. Tulisan ini hanyalah untuk
mengingatkan bahwa di samping semua itu, seorang dokter tidak dapat
bekerja sendiri. Untuk menciptakan sistem kesehatan yang baik dibutuhkan
juga dukungan sarana prasarana yang memadai. Oleh karena itu janganlah
karena kapasitas rumah sakit yang terbatas, semua pasien miskin boleh
berobat gratis, dan rumah sakit tidak boleh menolak pasien, lalu apabila
ada yang terpaksa sekali tidak terlayani dengan maksimal lalu
semata-mata menjadi kesalahan dokter dan rumah sakit. Dokter butuh rasa
aman dalam bekerja, dan hal itu akan sulit tercapai apabila dalam
melakukan tindakan selalu dibayang-bayangi dengan ancaman tuntutan.
Kenyataannya manusia adalah makhluk hidup dengan jutaan variasi,
sehingga meskipun sudah bekerja sesuai pedoman masih dapat juga terjadi
efek yang tidak diharapkan. Meskipun begitu, di kala para buruh berunjuk
rasa menuntut kenaikan UMR, apakah pernah kita dengar para dokter
protes karena gaji yang tidak memadai, pemberitaan yang tidak berimbang,
atau beban kerja yang terlalu berat?
Tulisan ini juga semata-mata bukan memprovokasi untuk menjadi dokter
miskin, bukan juga mengatakan bahwa dokter tidak perlu penghormatan
atau hal-hal duniawi lainnya. Tulisan ini hanya sekadar sebuah nasihat
untuk diri sendiri dan rekan sejawat semua untuk meluruskan kembali niat
kita untuk apa kita menjadi seorang dokter. Karena setiap amalan
tergantung pada niatnya. Silakan menjadi kaya, silakan menjadi
terhormat, asal jangan itu yang menjadi tujuan kita. Dokter terlalu
rendah jika diniatkan hanya untuk keuntungan duniawi semata. Mungkin
akan sangat susah untuk menggenggam erat idealisme ini nantinya. Namun
saya yakin, jika ada kemauan yang kuat dan niat yang tepat, idealisme
ini akan terbawa sampai mati. Walaupun harus sendirian dalam
memperjuangkannya, walaupun banyak yang mencemooh dan merendahkan.
Bagaimanapun dokter harus selalu melayani, sebab semuanya sudah terucap
dalam sumpah di atas kitab suci “Saya akan senantiasa mengutamakan
kesehatan penderita” Saya yakin, Allah tidak akan pernah salah menilai
setiap usaha dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Tidak akan pernah.
Kak kalau boleh tahu fk unissula menggunakan sistem sks atau blok tahun 2015/2016 ini?
BalasHapussks
BalasHapus